
Resmi! 5 Negara Kirim Pasukan Ke Gaza, RI Pegang Komando
Resmi! 5 Negara Kirim Pasukan Ke Gaza, RI Pegang Komando Dalam Pasukan Keamanan International Stabilization Force. Isu penempatan Pasukan Ke Gaza kini bukan sekadar wacana politik global. Pada 19 Februari 2026, pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace) di Washington DC. Terlebih yang secara resmi mengumumkan bahwa lima negara telah berkomitmen mengirim Pasukan Ke Gaza sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF). Ini merupakan langkah konkret pertama dalam menstabilkan kawasan yang telah bertahun-tahun di landa konflik. Kelima negara itu adalah Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania.
Menariknya, meskipun banyak negara besar di undang ikut serta. Kemudian dengan daftar negara yang mengirim pasukan masih relatif kecil. Sementara nama seperti Amerika Serikat justru tidak termasuk dalam daftar lima negara pertama tersebut. Rencana ini bukan tanpa alasan. Gaza saat ini berada di fase transisi kemanusiaan dan keamanan setelah gencatan senjata. Dan pasukan internasional di harapkan bisa membantu menjaga stabilitas, mengawasi wilayah. Serta menyiapkan pelatihan bagi polisi lokal. Perlu di catat juga bahwa Mesir dan Yordania tidak mengirim tentara. Akan tetapi berkomitmen untuk melatih polisi Palestina dalam misi ini.
Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF: Tanggung Jawab Besar Di Tangannya
Transisi menuju operasi nyata semakin kuat setelah ISF menunjuk Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF: Tanggung Jawab Besar Di Tangannya. Pengumuman tersebut datang langsung dari Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers. Dan yang menyatakan Indonesia menerima peran penting tersebut. Posisi wakil komandan bukan sekadar simbol. Ini menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kapasitas Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kemudian yang sudah memiliki pengalaman panjang dalam misi perdamaian PBB di berbagai belahan dunia. Kepercayaan ini juga memberi Indonesia peran strategis dalam pengambilan keputusan operasional di lapangan Gaza. Penting untuk di tekankan bahwa misi ini bukan upaya ofensif militer, melainkan bagian dari stabilisasi keamanan, proteksi sipil. Serta dukungan terhadap proses rekonstruksi. Indonesia menegaskan bahwa keterlibatan pasukannya akan lebih fokus pada aspek perlindungan warga sipil. Kemudian dengan layanan medis, dan rekonstruksi infrastruktur ketimbang operasi tempur.
Jumlah & Jadwal Pasukan RI: Siap Berangkat Dalam 1–2 Bulan
Selain peran komando, fakta terbaru juga menunjukkan bahwa Indonesia telah siap mengirim sekitar 8.000 personel TNI ke Gaza. Presiden Prabowo Subianto sendiri menyatakan bahwa Jumlah & Jadwal Pasukan RI: Siap Berangkat Dalam 1–2 Bulan ke depan. Namun tergantung persetujuan dan kesiapan akhir. Jumlah 8.000 personel ini mencerminkan komitmen besar Indonesia terhadap misi internasional tersebut. Walaupun jumlah ini bisa bertambah sesuai kebutuhan, yang jelas adalah bahwa langkah ini menjadi salah satu partisipasi militer Indonesia terbesar di luar negeri. Tentunya setelah berbagai misi PBB sebelumnya. Dalam persiapan tersebut, TNI akan memprioritaskan pelatihan internal, pemeriksaan kesehatan. Serta koordinasi logistik agar pasukan benar-benar siap beroperasi di medan yang kompleks seperti Gaza. Dan suatu wilayah yang hingga kini masih rentan konflik dan ketidakpastian keamanan.
Tantangan & Harapan: Apa Makna Keterlibatan Internasional?
Tantangan & Harapan: Apa Makna Keterlibatan Internasional juga jadi pertanyaan publik. Meski langkah ini penuh harapan, kenyataannya tidak sedikit pihak yang menyuarakan kekhawatiran terkait keterlibatan militer luar negeri di Gaza. Beberapa negara menunda keputusan mereka karena takut terjadi benturan dengan kelompok bersenjata setempat. Atau hanya karena mandat misi yang masih di anggap kurang jelas. Oleh karena itu, tujuan ISF bukan semata-mata hadir secara militer. Akan tetapi mengawal fase transisi dari perang ke periode damai secara bertahap.
Kemudian yang melibatkan keamanan, bantuan kemanusiaan, perbaikan infrastruktur. Terlebihnya hingga pelatihan aparat sipil untuk menjalankan fungsi publik. Bagi Indonesia sendiri, keterlibatan di Gaza membuka peluang diplomasi lebih luas dan menegaskan peran sebagai negara dengan kontribusi signifikan terhadap perdamaian dunia. Apalagi sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar. Tantangan besar tetap ada, tetapi komitmen nyata ini memberi sinyal kuat bahwa Indonesia siap berkontribusi. Tentunya untuk stabilitas internasional secara bertanggung jawab terkait Pasukan Ke Gaza.